PUTUTIK NETWORK

Blogging, Travelling, SEO and Monetizing

Topeng Monyet Kemana Langkahmu…??

Adakah diantara kalian yang tidak mengenal istilah topeng monyet? Ini adalah sebuah seni yang menonjolkan monyet sebagai obyek untuk memainkan berbagai peran yang pawang ajarkan padanya. Saya sendiri tidak tahu darimana topeng monyet ini berasal, yang jelas sewaktu saya masih kecil dan hidup saat jakarta masih banyak tumbuhan sekitar 1983 sering menyaksikan atraksi ini. Penontonnya begitu banyak lebih dari 30 orang, baik anak kecil, remaja maupun orang tua yang sekedar menjaga anaknya. Biasanya topeng monyet menyertakan hewan pelengkap antara lain anjing, kucing, ular dan kakak tua. Monyet merupakan pemeran utama dalam setiap atraksi. Kenapa disebut topeng monyet? Sang abang bingung menjawab, dia hanya bilang biar mudah di ingat dan monyet lebih sering pakai penutup wajah saat bermain. Memang kalau sedang atraksi monyet menggunakan topeng, helm dan reog mungil sesuai peran yang dimainkan.
Setiap sudut desa akan mengundangnya untuk menyenagkan anak2 mereka, sekumpulan uang receh terkumpul sekedar untuk menyambung hidup mampu mereka kumpulkan dengan jalan halal lebih mulia dari sekedar pemuda sehat pengemis. Gembira, ekpresi setiap anak yang menyaksikan memiliki makna lugas membuat mereka melontarkan kata-kata unik setiap takjub melihatnya. Namun teknologi dan berkembangnya hidup menggeser topeng monyet ini semakin terpuruk. Setiap topeng monyet lewat hanya beberapa anak mengelu-elukan ingin melihat sedang yang lain mengejek. Saat orang tua diminta mengundang atraksinya, mereka menolak halus dan menjajikan pada sang anak akan di ajak ke kebun binatang untuk melihat hewan yang lebih banyak.
Ya Alloh, hamba merasa takjub bahwa mereka masih bisa bertahan menghidupi dengan jalan sesederhana ini. Engkau Maha Kaya Ya Alloh, limpahkan kesejateraan jalan halal mereka ini dan jangan Engkau uji mereka dengan kilauan maksiat Ya Robb. Langkah mereka begitu tegar dan semakin jauh ditinggalkan, tidak ada yang perlu dipersalahkan karena hidup harus menatap masa depan. Tapi kami bahagia beberapa waktu lalu sempat melihat topeng monyet lewat, kami memanggilnya dengan penuh semangat keluarga besar tira di semarang menyaksikan. Anak-anak kecil yang takut menjauh, arya, yaya, riska, oom, paklik, bulik, budhe, mbah, papa dan mama ikut menyaksikan karena posisi tepat di halaman rumah.



Atraksi yang disajikan adalah monyet pergi kepasar, tentara maju perang, pembalap motor, mencari sumbangan dan bersepeda keliling kota. Pawang menabuh dengan irama monoton menciptakan suara yang mungkin sudah dimengerti oleh sang monyet. Begitu menurut dan membuat decak kagum anak-anak yang menyaksikan, semua sesi dilakukan dengan baik. Namun sayang tidak ada pemeran tambahan hanya sang monyet sendirian. Setelah selesai, monyet kami beri pisang 2 buah dan bayaran yang diterima hanya sebesar Rp. 5000. Pawang muda ini mengucapkan terimakasih dan mohon pamit kepada kami semua untuk meneruskan perjalanan. Arya yang kami ajarkan bagaimana berpamitan mengerti ucapan sang pawang, akhirnya arya menangis sejadi-jadinya meminta atraksi kembali dilakukan. Apapun yang kami katakan tidak digubrisnya, jika dia ngambek pasti menagis sambil sujud meliuk-liukkan badan kesana kemari. Papa gendong mengikuti langkah monyet beserta pawangnya, arya melakukan say good bye melambaikan tangan tanda selamat jalan buat mereka.

PUTUTIK NETWORK © 2013 and Hosting Murah dan Cepat by HostCepat.Com