PUTUTIK NETWORK

Blogging, Travelling, SEO and Monetizing

Sakit di Singapura

Esok paginya kami berangkat bareng menggunakan Mobil Jemputan yang seharinya sekitar 250$, menuju Blok W5 di Republic Polytechnic kawasan Woodland. Jauh juga lokasinya, namun dari situ saya bisa tahu bagaimana lalu lintas disingapura, so amazing. Jalan Tol di jakarta kalah deh pokoknya, meski tanpa restribusi tol, jalan mereka full hotmix apalagi kalo ada yang pernah ke Esplanade sangat lancar. Jika ada macetpun tidak ada yang berani melakukan serobot menyerobot.

Menurut cerita dari sang sopir, ini bisa terjadi karena pajak warga dimanfaatkan untuk pembangunan secara menyeluruh. Rapinya jalan karena setiap beberpa kilometer ada kamera pengintai terekam oleh Polisi standby ditiap posnya. Lain dari itu wajib militer membuat mereka menjadi tertib dengan sendirinya. Oya dikampus republic polytechnic ada himbauan (bukan larangan) menggunakan rok/celana wanita yang baik. Bagaimana tidak, sudah jadi kebiasaan warga sana bahwa pakaian baik atas maupun bawah yang dikenakan sangat mini. Ungkapan Rasulullah yang sering kami dengungkan yaitu “Akan datang masa dimana wanita berpakaian tapi telanjang” sudah sangat biasa terjadi di Negara singa ini dan kebanyakan wanita sudah demikian. Ah kapan-kapan saya mau ungkap masalah ini, karena saya sangat menghormati wanita yang mejaga auratnya dan saya sangat membenci wanita murahan yang mengumbar tubuhnya demi sensasi atau uang.

Malam harinya kami menghabiskan waktu untuk sekedar wisata atau belanja, ya 5 hari kami puaskan malamnya dengan jalan-jalan, karena paginya tugas. Malam pertama tempat yang kami kunjungi adalah wilayah Orchad, somerset, kerajaan dan newton. Sepanjang jalan kami lalui bersih sekali, yang ada ditempat remang-remang warga lokal yang masyuk dalam maksiat mereka tanpa peduli orang lewat.

Hari ketiga saya kurang sehat, sariawan 10 titik, disaat teman-teman dari negara lain bergembira makan-makan di MarinaBay yang ada saya menahan sakit. Kami ke Raffles City, War Memorial, Esplanade Theater, Food Republic dan Merlion Park. Kenapa tidak ke Singapore Flyer atau G-Max, walah kaki sudah capek lagipula sariawan ini begitu mengganggu.

Hari keempat kami belanja ke Mustafa yang sangat lengkap sebagai gudang belanja, meski boleh dikata harga disana lebih mahal dari pada di Bugis atau Kampong Glam. Dari situ kami keliling ke daerah Little India yang banyak menjajakan wanita India sebagai penghibur karaoke. Sebagaimana daerah-daerah lain, perkumpulan India identik dengan kekumuhan, lihat saja sudah semrawut dan kotor. Segala macam pernak-pernik berbau Singapura bisa anda beli disini dan kalo boleh saya bilang sebagian besar produk tersebut berasal dari Indonesia lho. Mau bukti? Cek aja sendiri, ada cap kecil pekalongan, yogya dan sebagainya. Tapi namanya oleh-oleh ya nggak masalah :. Selain itu, diwilayah ini terdapat banyak sekali sinetron Indonesia dalam bentuk DVD atau film Indonesia yang juga dibajak. Hehehehe bagaimana rasanya dibajak bung?

Semua sudut jalan sudah kami lalui dan kelelahan tiada kira mengajak kami untuk kembali ke Hotel. Dari Lavender kami pulang menuju Somerset, entah karena kelelahan atau lupa, saya meninggalkan pernak-pernik yang dibeli oleh teman dan saya sendiri didalam MRT. Meski nilainya tidak begitu banyak, namun kelelahan saja yang membuat saya sebal akan kejadian ini. Istilahnya sudah jauh-jauh kok ya ketinggalan.

Esok paginya saya berangkat tugas dengan kondisi lunglai, panas dingin dan perih dimulut. Rasa tidak nyaman ketika berbincang-bincang dengan rekan-rekan dari Malaysia, Thailand, Philiphina, Singapore dan Vietnam. Meski ketika saya tampil cukup meyakinkan team dari jerman dan India, namun kondisi ini membuat saya serasa loyo.

14 Comments

Add a Comment
  1. cerita yg sangat menarik,tp ini udah finish beelonnnnn,,,,
    kasih note donk mas……

    btw dlm rangka apa ni ke singapore??

  2. wayah.. sakit ya mas?? tapi ga rugilah.. masih bisa jalan-jalan 😀

    *menunggu oleh-oleh :D*

  3. Bawain patung singanya yach…
    🙂

  4. cerita sebenernya masih mau berlanjut tapi kapan ya

  5. kok ndak tau ya tempat2nya… itu Woodland sebelah mananya Wartel Kemangi? :p

  6. #anton ashardi: daerah cakep looh, wood khan kayu dan land dataran hehehehe dataran kayu kali ye 😛

  7. Hihihih kasiaan deh mas, sariawan. ko’ diborong, 10 titik????. Tapi emang yg namanya sariawan bener2 menganggu… ditetesin abotyl langsung ilang sakitnya mas 😀

    Kalo ngomongin India yg ada kesan kumuh ya… Crita suami sibabe pas ke India, katanya itu kota semrawut banget dan banyakan kumuhnya…

    Walaupun sariawan (rasanya sakir campur kesel bgt sariawannya tersentu pas ngomong atau makan), buktiya bisa tampil meyakinkan….. btw, dalam rangka apa ya mas? 🙂

  8. Walah…., jalan2 ke luar negeri koq pakai sakit sariawan segala. Tugasnya masih lama ya mas.

  9. #pututik: hahaha… “dataran kayu” katanya… gimana kalo gini, wood itu kan obat batuk, land itu pulau, jadi artinya “pulaunya obat batuk”… lah… (-_-)’

  10. Tinggal di Singapore ya? Waw, asyik dong… Jadi pengen juga deh. Bersih dan rapinya itu lho yang buat iri…

  11. Saya juga sering sariawan, bahkan kalau sudah parah sampai berminggu-minggu baru sembuh.

  12. wooh ..coba kalo pajak dari warga masyarakat indonesia benar2 digunakan dengan tepat, mungkin jalan2 kita kayak di spore itu kali ya…

  13. @ika : biarpun pajak digunakan dgn tepat, g akan bs dgn cepat menyamai jalan2 singapur, secara dr skala penduduk & wilayah saja udah jomplang… tp klo jalan2 di kota, gpp lah, dikit2 dibagusin 🙂

  14. #edipsw: stress berat kali ya
    #ika: bisa saja, tapi gedenya indonesia itu lho
    #zee: serius emang bagus kok 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

PUTUTIK NETWORK © 2013 and Hosting Murah dan Cepat by HostCepat.Com