Dakwah adalah dakwah, tidak harus diberi embel-embel diluar jalannya sunnah dan Qur’an. Beberapa kali aku menyaksikan televisi yang menayangkan acara islam tapi palsu, kenapa aku menyatakan hal demikian? Tampaknya semua telah terjangkit penyakit malas belajar agama atau mau belajar agama islam hanya yang enak-enak saja. Dan menambah-nambahi dalam berperangai dakwah tanpa berhati-hati. Entah sadar atau tidak mereka adalah publik figur dan akan menjadi contoh bagi para awam.

Ada sih yang mencoba membungkusnya dalam paket tertentu, namun mereka juga terjerumus ombak dashyat pembelokan. Ramadhan akan berlalu sebentar lagi, namun aktifitas mereka tetap disukai banyak kaum terbukti jika waktu sahur antara pukul 03.00 pagi hingga 04.00 wib dari samping kanan kiri rumahku terdengar televisi saling berlomba suara.Apa yang aku tidak sepakat dengan mereka mungkin tidak digubris mengingat situs ini tidaklah nampak dalam robot mereka. Tapi ini refleksi juga buat diri dan keluarga untuk semakin menjauh dari televisi kecuali berita. Inilah kritik kami buat ceramah atau dakwah atau acara apalah yang berbau islam tapi palsu:

  • Ingin menonjolkan diri dihadapan orang.
  • Audience bertepuk tangan dan teriak sorak-sorai keras.
  • Bernyayi-nyanyi dengan berbagai alat musik bagaikan nashara.
  • Mencampur antar laki-laki dengan perempuan yang tidak menutup aurat.
  • Tertawa terbahak-bahak.
  • Pengambilan ayat dan hadis yang sebagian2.

Aku harus menghindarkan keluargaku dari hal sedemikian, namun pemikat mereka cukup kuat mempengaruhi. Pushing aku memikirkan dai sekarang yang bermunculan di televisi, baik dalam rangka dakwah sederhana atau ditampilkan dalam sinetron. Mereka yang mengembalakan ternak kemaksiatan dan mereka yang akan menerima azab kepedihan. Tugas kita menjauhkan keluarga dari hal yang sedemikian….. wallahu alam bi showab.