Mempersiapkan Mental Belajar

Pada suatu hari arya bertanya kepada kami, “pa, kapan aku sekolah? aku khan sudah besar, mau main sama temen-temennya itu lho” lengkap dengan logat kekanak-kanakan serta bahasa indonesia yang njawani. Usianya masih 2,5 tahun kala itu dan belum ada Sekolah Taman Kanak-kanak yang bersedia menerimanya, paling juga play group yang biayanya bisa buat beli laptop baru. Akirnya kami tergerak untuk mencuri start agar kesempatan baik dan niat sang anak untuk sekolah kami realisasikan. Sadar atau tidak, jika kita terlalu sibuk dengan usaha maka tunggulah lepasnya perhatian moral, mental serta spiritual pada diri anak. Itulah motivasi kami hingga membuat rumah sebagai taman bermain sekaligus tempat belajar tiap hari.

Awalnya kami mengajaknya ke Taman Pintar di Yogyakarta, terutama di hari-hari libur yang banyak dikunjungi anak-anak. Kebun Binatang baik sriwedari, gembiraloka dan yang ada di semarang. Ternyata ini memotivasi dirinya untuk menghafal segala sesuatu dan selalu bertanya hal baru. Apa yang harus kita lakukan? papa dan mama secara bergantian atau saling berkomentar terhadap keingin tahuan arya. Kita akan melakukan pemancingan terhadap cara berfikir serta hafalan anak, pertama kita selalu memberikan jawaban yang benar kemudian suatu ketika kita berikan jawaban yang salah dan menunggu reaksi sang anak. Misalnya ketika kita yakin anak hafal dengan karakter jerapah kemudian kita melihat onta yang baru dilihatnya.
papa: “arya, lihat itu ada jerapah disana* (sambil mengacungkan tangan menunjuk ke onta)
arya: “mana pa, nggak ada” (clingak-clinguk)
papa: “itu loh sayang yang dikandang sana”
arya: “bukan……” (panjang banget monyongnya)
papa: “lho itu emang bukan jerapah?” (pura-pura bingung)
arya: “bukan ya maaa, masak itu jerapah…” (mulai bersikeras)
mama: “terus apa sayang, masih ingat gambar yang dirumah?” (halah mama)
papa: “lho emang ada tho dirumah?”
mama: “arya punya gambarnya pa….”
arya: “iya aku punyaoooo, banyaaakkk” (dimonyongin lagi)
papa: “tru namanya apa sayang?”
arya: “nggak tahu… lupa”
mama: “masak udah lupa, namanya… onnn”
arya: “ontaaaa, pak aku tahu, namanya onta papa salah thooo”
papa: “eh iya itu onta ya”
arya: “jerapah khan lehernya panjang ya ma.., trus item-item ya ma…”
mama: “iya anak pinter”Kemudian kami berdua menggunakan metode aktif baca tulis, tidak dengan cara mengajak sang anak membaca atau menulis tapi memperlihatkan kebiasaan kami dirumah dan mematikan peralatan audio video yang ada. Bangun tidur arya akan melihat papa membaca koleksi bukunya dan ketika melihat mama, ia akan memperhatikan keseharian pendataan keuangan keluar masuk dari usahanya. Karena tiap hari ia memperhatikan hal demikian hingga akhirnya ia akan bertanya “papa ngapain tho, mama buat apa tho?” Inilah kesempatan emas, mama lalu bertanya “arya mau nulis ya, ntar dulu mama beliin bolpen ya” pulang dari membeli bolpen, buku catatan mama sudah kotor dengan coretan cacing arya. Kita harus sabar dan idak boleh memarahinya, beritahukan bahwa penting dan karena itu suatu kesalahan maka ia harus segera minta maaf. Padahal aku tahu, muka mama dah merah menahan marah hi…hi…hi… Sesibuk apapun kita ketika sang anak bertanya atau minta dibuakan gambar segeralah menanggapinya. Semangat anak jangan sampai dikendorkan oleh ego kita sebagai orang tua. Ketika dia request buku bacaan (meski belum bisa baca) ajaklah ke taman bacaan atau toko buku sesegera mungkin. Karena apa? anak memiliki karakter yang mudah sekali dibina dan diarahkan sesuai keinginannya (bukan keinginan kita). Jika hal positif yang dia minta maka segera kita support dan tampilkan muka semangat, meskipun kita stress atau habis berantem dengan istri karena kurang jatah 😛 . Arahkan ke buku gambar bercerita atau mewarnai yang murah meriah, jika sudah segera kita fotokopi (sori bukan untuk membajak, tapi buku mewarnai mahal-mahal) agar ketika dia minta buku lagi berikan kopian yang sudah lama tidak dilihatnya. Kemudian kita ajak jalan-jalan ketempat alat tulis dan ajaklah dia memilih meja kecil serta whiteboard, berdasar pengalaman anak akan bertanya untuk apa whiteboard. Berikan jawaban untuk menulis dan menggambar ikan lumba-lumba besar (sesuai karakter yang disukai) agar sang anak terpacu untuk memilikinya.

Bagaimana ketika kita ingin mengajarkannya berhitung, anak terbiasa membuang mainan atau meninggalkannya di sembarang tempat. Panggil dan ambil salah satu mainannya untuk kita sembunyikan, suruh dia memasukkan mainan dan menghitungnya dengan angka urut. Jika ia bertanya tentang salah satu mainannya jangan berikan namun peringatkan keteledorannya. Hingga mainannya semain sedikit ia akan mengeluh, kok kurang dan inilah kesempatan kita untuk menghitung kekurangannya. Kala tidur ajarkan menghitung waktu dengan memasang jam dinding berangka besar, cara ini juga mempercepat pembelajaran dia mengenai waktu harian. Masih banyak sebenarnya yang ingin kami berbagi bagaimana pengalaman kami mencetak mental belajar, terilhami dari pembicaraan kami mengenai karakter anak disekeliling kami tadi jam 2 malam. Dan juga tanggapan guru-guru mengenai santun, banyak tanya dan keberanian arya menjawab pertanyaan meskipun ia paling kecil diantara yang lain. Kapan-kapan kita lanjut lagi dengan bagaimana mempersiapkan sekolah….. Waktunya ngantor

link untuk keperluan artikel semata, materi ini berdasar pengalaman kami

22 thoughts on “Mempersiapkan Mental Belajar

  1. #pandi: dah pernah minta onta lho, cuma karena pernah liat onta pipisnya banyak banget dia jadi jijik 🙂
    #kumpul: salam kenal kembali
    #zawa: iya om zawa harus terus, cuma tema kali ini mencetak kader-kader pembangunan yang selalu ingin belajar. Karena pengalamanku yang sederhana saja, banyak orang pengen instan. Misal kursus kilat baca qur’an tanpa tahu artinya.
    #ayahshiva: bisa kok, khan serverku us lagi pula widgetbucks nggak pilih kasih.

  2. Wah aku belum pengalaman kalo ngurus anak, maklum belum laku 🙂 . Untuk belajar harusnya gak kenal usia, kapan saja dan dimana saja kita bisa belajar. belajar, mencoba, dan sabar akan selalu ada hasilnya.

  3. #pudakonline: semua pasti belajar termasuk saya juga kepada njenengan dalam beberapa hal lho
    #Grandong: itu dia karena kebanyakan nonton TV biasanya anak2 susah diatur dan bandel lho 🙂
    #isnaini: halah lha itu kalo yang di thumbnail siapa hayooo, belajar itu sampai mati dan persiapan ini adalah untuk anak2 agar tidak terjerumus.
    #andibagus: yang jelas jangan terlalu dipaksa biarkan ia berkembang baik dalam khayalan maupun cara berpikir realistisnya
    #Arham: wah nggak baca lengkap pasti ya 😛 kami tidak memaksakan sama sekali. Semua dilakukan berdasarkan keinginannya dan kami hanya menerapkan disiplin waktu saja.
    Sudah kami link
    #gempur: semoga bermanfaat

  4. hehehe… iya bu, emnk susah.. apalagi kakaknya juga demen nonton tu NARUTO!haahahahahaha.. 😛 anyway emnak kapan mau ke bali? Saya ga ada mobil bu.. gimana kalo ketemu aja… hahahaahahha 😀

    grandong dong dong 😀

  5. hmm..
    bingung nie mau komentar apa..
    lha wong saya aja masih nyari pacar..
    tapi ok lah..
    saya simpan buat referensi bila sudah memiliki calon penerus..
    hweheh..

    ahh..
    ngga’ jadi dah..
    rasanya kok pengen komentar..
    tapi maaf ya kalo ntar aga’ pedas..
    saya setuju bila anak umur segitu diberi pendidikan oleh ortu-nya sendiri..
    boleh dikatakan sebenanrya bahwa perhatian ortu itu akan lebih sangat berguna dan bermanfaat daripada proses penjejalan ilmu ke dalam otak anak..
    sebenarnya sekolah itu apa sih..??
    sekolah adalah sebuah sistem yang menunjukkan ketidakmampuan ortu dalam menangani anaknya..
    betul ngga’..??
    (saya ngga’ bermaksud ngejek ortu saya maupun anda lohh, saya cuma ingin proses pendidikn yang lebih baik..)
    ini juga bukan definisi saya ..
    saya ngga’ tau dapat definisi ini dari mana..
    sudah lupa tuh..

    jadi bila anda masih mampu untuk mendidik anak anda..
    silakan didik terus..
    why not..??
    kecuali jika memang anda tidak mampu untuk melakukannya lagi..
    sekolah pasti akan menjadi tempat yang bagus untuk menjadi pengganti anda..

    lagian..
    apa sih sebenarnya yang bisa dijamin oleh pendidikan kita saat ini..??
    yang saat ini saya tahu hanyalah selembar kertas ijazah yang katanya bisa digunkan untuk menghidupi-nya..
    Namun..
    ternyata masih banyak juga yang jadi tukang sayur ataupun tukang ojek..
    bukannya ngejek tukang sayur dan tukang ojek..
    jurusannya itu loh..
    mending ngga’ usah dapet ijazah dan langsung jadi tukang sayur aja..
    itu akan lebih menghemat usia..
    agghh..
    sorry..
    memang rada sirik nih dengan proses pendidikan, bukan hanya di Indonesia lohh..
    Di Amerika juga kok..

    kalau untuk mental belajar..
    ini memang harus dipupuk terus..
    dari lahir sampai menutup mata..
    ehh..
    kok kayak lagunya acha..

    kepada para pembaca maupun yang punya blog ini..
    silakan berkomentar juga terhadap komentar saya..
    bisa di blog saya ataupun di blog ini..
    saya juga masih dalam taraf belajar dan juga belum menjadi master..
    saya masih sering melakukan kesalahan..
    jadi tolong kritik maupun sarannya..
    itu akan sangat membantu proses belajar saya menuju kesuksesan..
    trimakasih..

    nice blog..

  6. waw… anak yang pintar untuk ukuran seumurannya 😀

    hebat mas… dapet anak yang pinter kaya gitu 😀
    mungkin jarang sekali kali ya.. anak yang kaya gitu 😀

    *semangat*

  7. #grandong: gak tau nih jadwalnya belum tau
    #benbego: tuh masuk tho
    #hams: websitenya cukup bagus, belajar itu sejak lahir hingga mati. disini kami membahas melatih mental belajar, bukan kapan belajar itu dimulai dan diakhiri.
    #waterboom: perjalanan masih panjang, masa depan kita tidak tahu. semangat terus doonk…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *