Kebiasaan Arya dan Touring

Arya memiliki kebiasaan tambahan dari uraian-uraian sebelumnya seiring bertambahnya usia, setiap kali memanggil kami orang tuanya selalu kedua sapaan disebut dengan nada panjang lagi menggemaskan. Katanya “Pappaa…Mammaa ayaaaa……., Mammaa…… Pappaa….. ayangg” lucu deh, kalo kami beritahu memanggil sebaiknya salah satu saja, dia spontan akan menjawab “emoh… nggak auuu”. Tiap 2 hari sekali ia minta bicara dengan papanya yang di yogya, karena kebetulan arya masih di semarang sampai sekarang. Padahal setiap telpon dia hanya menunjukkan ekspresi tubuh tanpa suara (lha mana kita tahu ya), sebisa mungkin deh aku berbicara dengannya dari masalah mandi, sikat gigi, wayang, berhitung, menggambar sampai sholat. Jika kita kehabisan topik atau arya merasa bosan ia akan bilang “Papaa uddahh… mammaa niiii”, akhirnya mama yang memberi penjelasan bagaimana ekspresi gerak tubuh arya tadi. Karena sebelum aku mengerti bahasa sikecil ini, arya sempat marah banting handpone beberapa kali (mungkin karena masih sulit mengungkapkan dengan kata-kata yah).

Dari sini pelajaran bertambah, sedikit banyak kami semakin mengerti kegiatan rutin arya dan berbagai polah tingkahnya yang seakan terjadwal dengan sendirinya. Masih seperti cerita lalu hanya sekarang kata-kata arya lebih dapat dimengerti, baik dari minta susu, minta tidur, sholat, bangun antara 2/3 malam, minta pipis diluar meski tidur dan yang lebih baru adalah dia tahu jadwal orang jualan lewat depan rumah. Wah yang satu ini bikin boros pengeluaran, semakin dituruti tentunya kurang baik untuk pendidikan emosionalnya. Tapi proses pendidikan yang kadang bertentangan antara pendidikan disiplin kami dengan kemanjaan yang diterapkan oleh kakek-nenek dan beberapa saudara kami membuat was-was juga. Masa depan Arya adalah milik Alloh SWT, sebagai orang tua kami prihatin pembedaan karakter perawatan ini bisa mengembangkan pola pikir berat sebelah dan ia merasa nyaman karena adanya tempat bermanja-manja.

Kata orang arya memiliki kebatinan kuat terhadap papanya, kedekatan dengan papanya membuat mama dan saudara yang lain merasa iri. Bahkan saking dibuat-buat orang tertentu, beberapa kerabat bilang ikatan batin ini bisa buat tanda jika terjadi apa-apa (wah bisa syirik nih). Seperti sebelumnya arya menangis sehari sebelum gempa , dan jam 2 malam dia minta di telponkan papanya, udah ngantuk sekali malah aryanya cuman tertawa-tawa trus bilang udah mau bobo. Lha dari sini mereka semakin membuat kebenaran ungkapan mereka sebelumnya, padahal kejadian itu karena Alloh SWT yang menginginkan bukannya perkiraan mereka semata. Dan kalo lagi jauh begini telp memang salah satu sarana komunikasi kami, bukan telepati karena kami tidak memilikinya 🙂 .

Waktu diajak touring hari senin-selasa yang lalu, arya begitu senang menunjuk semua benda. Dia katakan “mammaa ittuuuu…. pappaaa kudaaa” sambil sedikit melirik saja aku bilang iya, karena kecepatan yang kupacu diatas 80Km/jam. Cuma mama kecapekan juga gara-gara arya usil, tepat di pom bensin bawen kami berhenti untuk sholat dan arya hanya melamun melihat kendaraan yang dimasukin selang. Tampak keringat arya mengucur dengan deras, mama menanyakan adhik capek ya, sini mama lepas jaketnya dulu dengan sigap arya pasang posisi sambil menunjuk ke arah petugas pom. Mama menjelaskan kalo kendaraan capek jadi butuh istirahat dan minumnya bensin, ah arya malah bilang maahh… aus…. cucuuu… cucuuuu. Setelah selesai minum kami melanjutkan perjalanan ke solo, perjalanan yang kurang menyenangkan adalah boyolali ke arah kartasura. Sepanjang jalan tersebut amat sangat bergelombang, kadang berlubang dan berpasir. Pdahal daerah tersebut sering dibenahi, tampaknya kurang maksimal karena proyeknya tambal sulam. Padahal jika arah kartasura ke boyolali jalannya bisa halus, hmmm karena itulah perjalanan kami sedikit lebih lama. Oh ya, dari daerah boyolali pemandangan Merapi begitu indah dengan letupan kecil disertai asap tebal terarah ke selatan. Pucuknya nampak berpasir gundul, sisi selatan masih hijau dari kejauhan dan hawa panas menyengat apalagi kalau disana wah nggak kebayang deh. Sayang kami tidak shoot daerah sana yang menurut kami keindahan alam lukisan Illahi tiada tara.

Disolo arya bermain dengan kakaknya Yudha (anak kakakku), kebetulan ia punya wayang yang lebih bagus dari arya dan ditunjukkan ke arya. Arya senang memainkannya, dua.. dua… dua… mammaa… sambil berlari meminta mencarikan yang lain. Kaerna hanya ada satu akhirnya kakung mencarikan tepas (kipas bambu), katanya ini gunungannya dhik. He…he… arya ndak bisa dibohongin dia bilang emmooh…. wayang…. sambil membuang tepas dan tetap saja mencari wayang yang lain. Karena tidak ketemu dia nyerah, noeng… noeng… noeng dalang kecil memainkan wayangnya 😉 . Di daerah sana ada pabrik gula namanya PG. Tasikmadu (kompas pernah memuatnya), dari jaman penjajahan sampai sekarang masih mengeluarkan asap hitam berdebu pembakaran. Asap ini tidak kalah menariknya dengan asap merapi, karena jarak jangkaunya berpuluh-puluh kilo. Karena kebanyakan dari warga sekitar sebagai pekerja disana, sepertinya harus pasrah saja dan tiap waktu mesti membersihkan rumahnya saat pabrik beroperasi. Semoga perangkat modern menggantikan semua perangkat berpolusi tersebut dengan perangkat ramah lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *