PUTUTIK NETWORK

Blogging, Travelling, SEO and Monetizing

Hidup Untuk Makan

Sebuah kalimat yang mudah dicerna tapi mungkin enggan menelaah maksud didalamnya. Kata demi katanya sangat mudah dipahami oleh siapapun yang membacanya. Dimana kalimat hidup untuk makan menggambarkan perilaku manusia sebagai obyek pelaku mengejar segala sesuatu di dunia ini hanya sebatas mengurusi kepuasan dan urusan perut saja. Pikiran telah masyuk oleh kenikmatan sesaat yang mengenyangkan ususnya. Lambat namun pasti akibat hal ini pelaku akan selalu mencari cara atau tempat dimana dia bisa mendapatkan makanan empuk yang diinginkannya. Sungguh sangat mudah didapati orang-orang sedemikian ini dan sulitnya ber amar ma’ruf nahi munkar bersama mereka.

Mereka berbincang tentang makanan tiap waktu, menceritakan kenikmatan makanan, cara mendapatkan makanan, jenis variasi makanan dan mencari sesuatu yang baru tentang makanan. Seolah-olah perut mereka siap menampung berbagai jenis makanan, lalu membuangnya cepat-cepat ke jamban atau toliet. Tidak merasa malu jika ada yang sedang berpuasa, tidak merasa risih ada yang kelaparan dan tidak merasa sayang saat sisa makanan terbuang percuma. Syahdan semua cerita ini adalah pengalaman pribadi saya bertemu dengan kerabat, tetangga, teman, teman sekantor dan customer.

Lambat laun saya merasa tersisih oleh tingkah laku mereka, betapa tidak tiap waktu ada saja makanan aneh ditelinga saya yang sebenarnya tiada seistimewa yang mereka bicarakan. Mereka sering katakan bahwa makanan sdr. fulan di suatu tempat amat enak, maka berbondong-bondonglah mereka mencari lokasi si fulan lalu mencobanya. Esok harinya ada berita lain lalu mereka pindah tempat, demikian seterusnya. Saat duduk bersama tetangga, mereka merencanakan pergi kesuatu tempat makanan cepat saji dan ini berulang terus hingga mereka puas terhadap makanan yang mengisi usus 12 jarinya. Dengan teganya seorang customer private yang berkecukupan hartanya menceritakan tentang kegiatannya membiayai kehidupan seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi di yogya dan ia mendapatkan sang mahasiswi sebagai pemuas nafsu setiap saat. Saat seorang rekan sejawat sedang berpuasa dengan santai sekelompok rekan makan di samping si fulan.

Akhirnya setekian lama untuk mengambil atau menarik kesimpulan dari kalimat “Hidup untuk Makan” saya melakukan perjalanan ke barbagai karakter orang termasuk diantaranya para pengemis di Tugu Yogya, tukang becak Pingit Yogya, tukang copet Stasiun Tugu, tukang parkir seputar Mangkubumi dan pengamen Malioboro. Sungguh sangat menyedihkan karena sebagian pengemis dan peminta sumbangan di seputar wilayah yang sebutkan sebenarnya adalah orang-orang yang teroganisir dan sumbangan ikhlas yang kita gunakan untuk membangun tempat ibadah atau sekolah digunakan untuk memberi gaji “Pengepul Gepeng”. Lain lagi petugas parkir dan pencopet yang sempat saya ajak bicang-bicang ngalor ngidul, mereka menggunakan harta hasil jerih payahnya untuk foya-foya dan tutur katanya cenderung kasar identik dengan pengumpat.

Saat hari minggu pagi tiba, anda bisa melihat bagaimana perilaku mahasiswa di bundaran UGM. Silahkan nilai sendiri yang mereka lakukan, begitu boros lagi banyak yang mengumbar aurat menyebar fitnah neraka yang sungguh sebenarnya mereka sadar. Ada akhwat yang sempat saya tanyai kenapa pakainnya begitu seronok, dengan bahasa mencibir ia katakan “eh jaga tuh mulut, kalo mata lu nggak suka nggak usah liat”. Masya Alloh, sedangkan ia yang memperlihatkan diri di lingkungan begitu luas lagi banyak mata memandang. Sudahlah, saya hanya istighfar dan menuju masjid UGM untuk taklim sejenak disana. Sungguh, rumah Alloh SWT ditinggalkan hambanya yang berlomba-lomba mencari kepuasan. Hanya ada segelintir rekan yang serius mendengarkan pelajaran religius dari sang ustadz. Mataku menitikkan air mata, tapi belum tentu aku bisa selamat kelak.

Kesimpulannya jika individu memiliki “Hidup untuk Makan” dalam qalbunya baik disadari maupun tidak maka akan terbentuk perangai-perangai tidak tahu malu. Jika sudah mendarah daging ia akan menjadi penyakit yang berbahaya bagi tubuhnya, sulit untuk menerima kebaikan dan menganggap segala sesuatu harus mendapatkan imbalan jasa atau paling kasarnya uang. Semoga kita dijauhkan dari yang demikian.

PUTUTIK NETWORK © 2013 and Hosting Murah dan Cepat by HostCepat.Com