PUTUTIK NETWORK

Blogging, Travelling, SEO and Monetizing

Belum Tentu Baik

Ketika mengikuti kultum dan mengamati apa yang diuraikan oleh seorang khotib, ada baiknya kita mau menelaah kembali apa yang beliau uraikan. Upaya ini menarik benang putih supaya kita mau belajar lebih baik dan tidak hanya ikut secara serta merta. Namun jangan pula sok pintar padahal ilmu itu bisa berkurang jika tidak dirawat atau dipupuk dengan baik. Jangan sampai kita seperti bebek yang menurut saja digiring kesana-kemari, bahkan bingung ketika harus menentukan arah. Karena Tujuan itu hanya satu yaitu mencapai kebahagiaan dunia akhirat dan arah itu hanya satu yaitu Alloh Penguasa Semesta Alam.

 

Sedangkan ilmu itu banyak cabangnya dan itulah hikmah yang perlu dipelajari, agar kita mengetahui arah yang benar dan tidak melenceng dari tujuan akhir.
Lalu kenapa kita perlu mempelajari kembali apa yang diungkapkan seorang khotib, sedang ia berilmu dengan gelar haji, guru, ustadz, kiyai, syeikh, da’i dan lainnya. Karena, jangan sampai kita lupa generasi terbaik hanyalah sampai kepada para tabiit tabiin tabiin. Dimana tidak ada keraguan dari mereka perihal ilmu agama baik menyangkut dunia maupun akhirat. Marilah kita berupaya menghidupkan kembali semangat belajar, memperbaiki diri, belajar dengan para ahli ilmu, untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Jika kita keliru pada suatu masa lalu, maka ketika telah kita dapati ilmu yang benar kemudian berusaha gigih mencari referensi shohih wajib bagi kita melaksanakannya. Jangan sampai seperti kerbau, diteriakipun tetap saja pura-pura tidak perduli. Apakah ini upaya menyanggah uraian mereka? Jawabnya adalah TIDAK. Kita belajar agama adalah untuk bekal akhirat dan belajar agama bukanlah suatu permainan atau saling sanggah.

 

Sedang ketika kita belajar ilmu dunia adalah untuk memajukan atau mensejahterakan umat seiring perkembangan jaman tanpa menghilangkan peran Alloh pemilik Kepandaian. Pembicara yang baik adalah ketika ada pendapat berbeda ia berusaha mencari kebenaran (bukan mencari kesalahan), mendengarkan (bukan memotong kalimat), menyimpulkan dengan ilmu (bukan menyitir yang baik saja) dan memutuskan dengan ilmu (bukan dengan nalar). Pendengar yang baik adalah yang sanggup menyampaikan pesan kepada yang belum menerimanya, mencari referensi dari pokok pembahasan, bertambah keimanannya dan semakin arif dalam bersosialisasi dengan apapun, bagaimanapun serta siapapun.

Ketika kita merasa lebih baik dari yang lain, maka hati-hati bahwa bisikan setan mengganggu pola pikir manusia. Segala sesuatu itu dinilai oleh makhluk dan Alloh SWT, ingat hablum minalloh wa hablum minannas. Belum tentu kita berpakaian jubah, berpeci dan bercelana diatas mata kaki dianggap baik oleh khalayak, bahkan para kaum liberal (orang yang menganggap semua agama sama) lebih menganggap kita teroris. Belum tentu orang kaya raya itu lebih baik dari pada seorang miskin yang dianggap sampah masyarakat. Bisa saja dianggap tidak baik seorang yang ahli ibadah oleh mereka yang ahli maksiat. Bisa saja dianggap ketinggalan jaman wanita berjilbab lebar menutupi aurat dari mereka yang memakai pakaian mengumbar bentuk tubuhnya. Bisa saja seorang suami yang didepan istrinya terlihat sholeh ternyata seorang ahli maksiat. Bisa saja seorang anak menganggap kesalahan orang tuanya merupakan suatu kebaikan yang bisa dimanfaatkan. Belum tentu Alloh menerima amal kebaikan kita seumur hidup sedang diakhir hayatnya ia dalam keadaan kafir atau menyekutukan Alloh SWT.

Baik menurut orang belum tentu baik menurut kita, sedangkan kebaikan itu amat sangat disukai oleh semua makhluk. Sholat dirumah yang sangat khusyuk tidak lebih baik dari sholat berjamaah dimasjid tapi anehnya sholat di rumah lebih disukai, berjuta pahala yang dijanjikan Alloh SWT tidaklah lebih baik menurut para ahli zina karena menurut mereka syahwat adalah segalanya. Itulah hati, jangan dikotori hingga kita terperosok mengikuti sesuatu yang salah. Porsi hidup jangan dibuat seimbang, karena sudut kemiringan amal jahat bisa jadi beban lebih berat. Beribadah itu menurut kemampuan dan usaha terbaik kita, jangan sampai ketika sehat kita malah membuatnya ketakwaan menjadi sakit. Ketika beriman jangan sampai kita nodai hingga kita menjadi kafir dan jangan sampai kita diacuhkan Alloh SWT karena perilaku munafik kita yang hanya ingin melakukan kebaikan menurut hak asasi kemanusiaan sedang kita tahu bahwa itu tidak berlaku bagi Agama Yang Suci ini. Kita menghormati hukum-hukum yang dibuat manusia, jika tidak mengajak maksiat kepada Alloh SWT maka kita kerjakan dalam rangka kemaslahatan bersama. Dibalik banyaknya perbedaan itulah maka kita perlu hati-hati dalam mengambil sikap, namun kita juga harus punya jatidiri. Yaitu jatidiri yang Mulia di mata Alloh SWT dan para makhluknya, yang bisa menyejukkan bagi orang lain, yang menyenangkan bagi orang lain dan membuat aman bagi orang lain dengan perlaku baik terpuji. Jangan sampai perbedaan-perbedaan yang ada malah menjadi bumerang bagi kita sendiri dan menjadi senjata ampuh bagi musuh-musuh agama ini untuk mengadu domba kebodohan umat bertajuk emosi serta egoisme.

Semua itu belum tentu baik, maka kita harus mencari apa yang terbaik menurut Alloh dan menurut manusia. Dan jangan sampai kita hanya melakukan apa-apa yang baik menurut manusia sedangkan Alloh kita lupakan. Jangan sampai kita merasa agama ini memberatkan manusia dalam melakukan aktifitas keseharian sedangkan Alloh memberikan kemudahan bagi hamba-hambanya yang mau berpikir. Puasa itu menata kerja tubuh untuk rehat sejenak, sholat untuk menghormati sang Khalik, Zakat untuk kesejahteraan bersama, Haji untuk tamasya kesabaran hati jiwa raga kepada Alloh SWT dan jihad mengajak kebenaran disaat kebatilan sulit dikendalikan. Rahasia hidup ada dalam hati, marilah merawatnya dengan baik…………!!!! Belajarlah…. sebelum ilmu itu sulit dicari kebenarannya, kebodohan menjerumuskan kita pada prasangka yang salah, kiamat merenggut kesempatan, hati tertutup dari hidayah dan kematian menghentikan kemampuan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1427 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga Ibadahku dan Ibadahmu di Ridhoi Alloh SWT
dari Kami Sekeluarga
Putut Tutik Arya

Updated: May 8, 2018 — 7:53 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PUTUTIK NETWORK © 2013 and Hosting Murah dan Cepat by HostCepat.Com