Ada Senyum di Sana

Perjalananku dari solo ke yogya lalu semarang kemudian jakarta kembali lagi ke yogyakarta menemukan banyak hal lucu, membuat senyum itu hadir dengan sendirinya. Bukan sinis, bukan menghardik namun bertanya kenapa bisa begitu? Apakah wajah keramahan manusia Indonesia mulai hilang ataukah inilah wajah manusia Indonesia yang sebenarnya? Mau tau jawabannya, simak saja tulisan saya di bawah ini…

  • Sore itu aku tiba di Palur, segera aku hubungi kakak untuk menjemput. Dengan sigap ia berangkat dari rumah, aku menunggu cukup lama hingga akhirnya ia datang juga…. Akh keluhku, kenapa tidak bawa helm. Dengan santainya kakakku melaju melewati barisan polisi di dekat pembatas rel kereta api. Tapi aku jadi ingat iklan A Mild yang kreatif itu, selama perjalanan aku malah senyum-senyum kakakku ini sungguh kurang ajar. Tanya Kenapa? Dia bilang, ahhh nggak papa dik… he..he…he…
  • Esoknya aku tidak mau diantar alias lebih baik naik kendaraan umum saja. Bus putera mulya datang tepat waktu, pikirku sampai stasiun ndak bakal telat deh. Tapi bus warna merah ini memiliki kebiasaan buruk yaitu ngebut meskipun jalan umum ini hanya cukup digunakan oleh dua bus mini. Nah ketika melewati jembatan yang airnya kering bus oleng tidak mampu mengambil jarak dengan sepeda kayuh yang dikendarai bapak-bapak karena berpapasan dengan bus yang lain. Eh malah sopir dan kondekturnya dengan bangga marah-marah menyalahkan si pengguna sepeda tersebut. Tanya Kenapa? Sopir bilang, wong nggenjot kok ra cekat-ceket (ngayuh sepeda kok lamban)… ha..ha…ha… Ngurus SIM nya nggak test ya pak
  • Menggunakan kereta api PRAMEX dari palur memang mengasyikan, murah dan cepat. Ada segerombolan keluarga naik dari stasiun purwosari, nampaknya dari golongan orang berduit dan memiliki pangkat. Sang bapak berbadan tegap, berambut cepak, menenteng 9210i dan keluarganya gemuk2. Ketika tiba petugas melihat tiket kereta sang bapak hanya menunjukkan satu tiket saja dan menunjuk untuk semua anggota keluarga. Tak ayal sang petugas bersitegang dengan sang bapak tersebut dan setelah kontek2 diloloskan juga. Ada ibu-ibu nyletuk, oalah mas-mas mung 7000 kok yo ndadak ribut (oalah mas-mas cuman 7000 kok pakai ribut). Tanya Kenapa? ibu betul tapi kurang tepat, lha kalo dikali 5 berarti Rp. 35.000 lumayan tho buat beli RASKIN 🙂
  • Perjalanan ke Semarang sering kulakukan dengan sepeda motor, kebiasaan ngebut belum juga hilang sampai sekarang. Nah ketika itu aku bareng dengan Jupiter MX berkecepatan 90KM/jam, setiba turunan kodam diponegoro semarang aku mengurangi kecepatan. Namun kedua pemuda tersebut malah menambah kecepatan, padahal ada 3 tanda bahaya yang cukup besar berjarak tenggang 50m. Pertama “Hati-hati sering terjadi kecelakaan” Kedua “Kurangi kecepatan segera” Ketiga “Kurangi SEKARANG”…. BRUUKKKKKKKKKKKK jatuhlah mereka. Sekitar jarak 25 meter dariku, mau nolong tapi mereka sudah dipinggir. Ya udah aku hanya mendekat perlahan melihat apakah ada yang terluka, ternyata yang satu luka ringan dan meringis kesakitan. Lebih dari itu yang satu ketawa sedang yang satunya lagi mengumpat sekenanya. Akibat hal ini, aku pergi saja… lagian nggak suka mendengar kata-kata mereka. Mungkin saja mereka menuruti warning dari plang peringatan, cuma salah nginjak rem kali ya… he..he..he..
  • Ke Jakarta seperti biasa aku menggunakan bus Raya favorite keluarga, cuma kena tuslah waktu itu harga tiket melambung Rp. 240.000,- mending naik pesawat ya. Nah malam mulai larut, aku memang sulit tidur hingga aku melirik sepanjang jalan alas roban. Ada yang membuatku tersenyum-senyum ndak berhenti-henti, entah ini sopir bisa baca atau memang yang punya tulisan. Ada tiang lalu lintas peringatan dengan warna merah “Truk dan Bus dilarang parkir disini”, Eh malah truk gandeng besar berwarna merah dengan sengaja nangkring tepat dibawah tulisan tersebut. Walah-walah… lulus tenan
  • Di luar Terminal Lebak Bulus aku biasa nyegat bus P20 untuk ke Mampang, nah ada yang unik lagi menarik. Setahuku Polisi di Jakarta cukup tegas dalam mengatur lalu lintas jalur padat, kalo ini ada sedikit longgar. Banyak pengguna bus berkerumun tepat di tanda larangan berhenti atau larangan mengambil penumpang, waduh kenapa ya? Polisinya juga kasihan nanti pekerja pada terlambat dan pengguna kendaraan umum itu belum bisa baca tanda larangan karena ndak ikut test berlalu lintas… Nah kalo begitu bisa-bisa mereka mau naik busway nggak perlu nunggu di koridor cukup melambaikan tangan….
  • Tidak sampai disitu, ketika aku sholat di PLN daerah sekitar mampang ada pertanyaan seorang anak malaysia kecil mengenai warga jakarta. Sianak: “Abi, kenape banyak orang di jakarta tak suka sholat di Masjid”. Sang ayah: “Mereke punya faham sendiri atau mungkin sibuk..!” Sang anak bertanya pada ibunya “Benarkah demikian ummi, adakah mereke sibuk benar” Sang ibu:”Bisa jadi, biarlah mereke menurut jalan mereke” Si anak masih bertanya tapi tidak kudengar jelas karena kentalnya bahasa melayu mereka. Inilah senyum tanda hormat, betapa perhatiannya anak tersebut. Semoga Alloh memberinya kebaikan dunia akhirat.
  • Kembali dari jakarta aku tidak langsung ke yogya, tapi mampir kesemarang karena arya sedang sakit. Dan hanya Alloh Yang Maha Tahu tentang apa yang dipikirkan arya, badannya begitu kurus dan sangat kering. Aku terharu dan bertanya kepada istriku perihal sakitnya dan perihal makan minumnya. Ia bercerita tiap hari ia selalu bilang ingin ikut papa kerja disana, telpon darikupun tak mau dijawabnya, tidak mau makan nasi, tidak mau minum susu dan hampir rewel tiap hari. Segera aku berdoa, karena segala sesuatunya kembali kepada Alloh Yang Maha Sempurna. Pukul 05.00 aku paksa dia bangun dengan sedikit menggoda. Dan matakupun menitikkan air mata tanpa kusadari, anakku menatap dengan sayu dan berkata sambil berkaca-kaca “ikum pa (maksud arya assalamu”alaikum), arya lemes pa, sini…” Dengan manja ia minta dipeluk, serta merta aku menggendongnya dengan belaian lembut iapun tersenyum. Suhu tubuhnya cukup tinggi, hingga aku ajak ia bercampur dengan udara segar pagi hari sampai ke sawah. Aku manjakan waktuku untuk si kecil arya pada hari itu dan ia menemukan figur ayahnya kembali. Makannya begitu lahap, buah-buahan pun disantapnya dan mulai bercanda. Tubuh kecil itu membuatku tersenyum, karena nikmat Alloh masih menyatukan kami dalam kasih sayang yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain dengan cara yang berbeda. Mama dan simbah pun bahagia melihat perubahan arya, kebahagiaan yang didambanya cukup sederhana yaitu bersama papanya. Ya Alloh karuniakanlah kepadanya kesolehan, kebenaran, semangat, kesehatan, kepandaian yang baik dan keadilan. Senyum itu tumbuh meski kita dalam kesedihan, karena kebahagiaan hakiki ada dalam hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *